Seharusnya tak terkurung, biarkan ia terbang bebas dari dahan ke dahan, seperti dulu. Ceria, ringan sayap-sayapnya melukis diantara mega-mega. Merajut cinta hanya pada Sang Pemilik. tersendat, tersayat, dan keluhnya, peluhnya, bening mutiara, ingin ditanamnya di palung terdalam.
Senyum yang selalu ada sia-sia belaka.
“Ra,apa lagi yang kamu pikirkan??”tanyaku terbentur dengan tangis.
“Ini sudah biasa ,tapi jangan lebih sakit dari apa yang pernah kurasa, ” jawabnya begitu tegar padahal kudengar gemuruh menggelegar
“Samar, benar-benar samar?” tanyaku lagi selagi hati masih ingin berbagi.
“Iya, lengkung bibirku dirundung kelu bila dipaksa tuk tersenyum.”katanya seraya menciptakan lengkung indah di wajahnya.
“Ra, perjalanan kita masih panjang, dan kita bukan satu-satunya pejalan dijalan ini ”
“Kamu benar lagi, aku yang kesatu ataupun aku yang kedua rasanya sama saja. Tujuan kita
pun satu. Ya udah!” dihembuskan nafasnya dan dipungutinya mutiara-mutiara bening itu, hingga lelap hanya terdengar suara dari mimpi-mimpinya.
Debur ombak pantai membangunkannya pagi ini. Aroma Subuh menyejukkan, mengembalikan apa yang terkikis semalam. Meski warna itu masih melarangnya bertemu kekasih. Diutarakannya do'a dalam hatinya. Biar pendar cahaya itu tak hilang.
“Aku ingin menyerah saja.” katanya. Ini yang membuat ku terkadang membencinya sosok yang lemah! Rapuh!.
Kantung mata yang tebal semakin menebal. Ia berjalan menunduk merasakan risih pada terkaan-terkaan mata yang melihatnya.
“Biarlah hari kemarin muram, tapi hari ini semoga senyum kulihat di wajahmu.”ini kata yang diucapkan kekasihnya
“Impian kita, yaa..aku takkan menyerah sayang, akan aku lalui. sebanyak itu senyuman pun teriring dengan tangisan.”
Senyuman Beriring Air Mata
Malamku
Semaleman aku terjaga
Sesudah lelapku dalam buain malah
Ku mencarimu disudut mimpiku
Namun tak bisa ku menemukanmu
Malamku tertinggaal tanpa sepatah katamu
Malamku menjadi gulita tanpa nasehatmu
Malamku sepi tanpa pertanyaanmu
Dan malamku sepi teramat sepi
Dipenghujung malam mata tetap berkelana
Lantunan melodi indahmu tetap menjagaku dari mimpì dan cemburuku tercipta
Pagi datang dengan tatap matanya yang tak tega
Dan menuntunku terlelap dengan pelukannya sejuknya
T
Kaca Mata
Pada riuhnya siang di negeri asing ini. Diantara ribuan wajah-wajah asing, wajahmu masih saja anggun seperti dulu, saat pertama kali kau injakkan kakimu disini. Tiba-tiba kau dengan pertanyaanmu, yang sama seperti dulu padahal sekian waktu sudah berlalu. Lagi-lagi sebuah dompet tanyamu sekaligus tawamu. Untuk sebiji koin agar tak tercecer kataku. Aku pun tak mau kalah untuk tidak melemparimu dengan tanya. mataku menyipit, menemukan kaca mata hitam digenggaman tanganmu. Mata beningmu seperti telaga, lentik yang memagar indah matamu, mengapa kau tutupi, tanyaku padamu dan aku menunggu jawabmu. Dahimu mengernyit kulihat dan kucoba menghitung garis-garisnya. Biar mereka tidak bisa berenang dikedalaman hatiku, mencari dan menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang aku tak bisa menjawabnya, dan juga kutipu mataku agar tak nampak keriput pada kulitku dan seolah aku adalah seorang bayi. Jawaban menenggelamkanmu disenja yang menua.
Ikutlah aku suatu saat nanti, tapi kau menggelengkan kepala. Iya, aku tau kita sama datang ketempat ini, pijakan kita pun sama, yang menciptakan kita pun sama, dan untuk pergi kita tak pernah tau, seperti pagi itu pak tua menyeduh kopi didapurnya, tapi saat senja dapur kosong tanpa paktua dan secawan kopi, seterusnya dia telah pergi. Seperti senja kemarin bayi tetangga dengan lahap menyedot air susu dari ibunya dan tadi pagi ibunya menjadi gadis lagi.
Kali ini malam melelapkanmu dan jejak kakiku meninggalkan senyum bangkubangku kosong aroma pantai yang terus menyeruku kembali. Akan kujumpai engkau esok kataku berbisik.
Wìsma Kata Aurora
Selembar Kenang
Selembar kenang
Dibuku perjalanan
Segurat rindu
Cahaya pagi
Kemerduan menari
Merambah hati
Memetik embun
Menjajakan senyuman
Dicadas keras
Menghapus peluh
Pada senja yang lusuh
Rindu berlabuh
Malam bertandang
Rebah memeluk bintang
Mìmpipun datang
*Pengen bisa Haiku, tapi asal ni.
Wisma Kata
Wisma Kata
Mentari beranjak keperaduannya, disambut semburat jingga yang terbentang dikanvas langit.Gumpalan gumpalan awan seperti kapas tersebar diseluruh permukaan langit, tak lepas rasanya mengagumi karya indah Sang Maha Agung. Senja masih sama, membawa warna menjadi pelangi yang menemani seorang gadis dan seorang pemuda dalam kesendiriannya.
Kilau magis senja tiba-tiba hadir menggamit tangan keduanya. Tatap mata pun menyatukannya pada indah senja di wisma tak berpintu.
“Aku hamil!” kata gadis itu dengan tatap manja. Ia mencoba menyembunyikan wajahnya yang nampak bersemu merah.“Kamu harus bertanggung jawab, sayang” katanya lagi seraya memandang wajah kekasih dihadapannya.
Masih saja hening, sementara sang bayu begitu sibuknyabercumbu dengan tirai-tirai yang menjuntai.
“Tapii..sayang,” kekasihnya menjawab lirih, tapi jawaban belum jelas. Ia mulai jengah dengan sang bayu yang jugamenggodanya, membuat dingin kulit dan tangannya.
“Tapi kenapa, sayang?” tanya si gadis
“Dengan jarak yang kesekian ribu, mana mungkin aku.... ”
“Iya. kita tak pernah bertemu muka aku tahu. Tapi aku bener-benar sedang hamil dan itu karenamu...” tukas gadis itu sebelum kekasihnya menyelesaikan kata-katanya.
“ Tapi...” jawab kekasihnya terpatah, fikirannya pun kian kalut. “ baiklah. Apa yang terjadi, aku akan bertanggung jawab, sayangku ” jawabnya seraya melemparkan senyum kecut pada gadisnya.
Terlihat rona kemerahan bersemu bahagia diwajah si gadis. Kemudian ia berkata: “Sayang, rasamu menghamiliku, sehingga janin tumbuh subur dalam rahim rasaku, dan pada akhirnya lahirlah bermacam rasa: manis, pahit, sedih, bahagia, begitu sempurna. Begitu besar debur ombak, begitu berdesir padang pasir, dalam dada kita ada hasrat yang begitu membara, ingin memiliki untuk selamanya, engkaulah harapanku dan tujuan pelabuhan hatiku”Pandang wajah bertemu dalam hayal, senyum manis dari dua insan berlainan jenis semakin merekah, merekah hingga membuncah meledakkan bunga-bunga bahagia diwajah mereka berdua.
“ ha,,ha,,ha,,” sejoli itupun tertawa lepas.
“ Sayang, kamu buat suasana sungguh mengerikan. Aku seolah terpidana yang siap untuk digantung. ”
perlahan namun pasti mereka berdua berpeluk, dekapan semakin erat, tergenggam jemari hati. Tak terasa air mata menetes, membasahi cinta mereka berdua.
“ Besok aku datang melamarmu.” Ujar lelaki itu tersenyum sambil melipat-lipat jarak hingga bentangan itu tak lagi ada.
The End
Sekeranjang Kata Untukmu, Elja (ELJA 2)
Putih yang terjaga tidak terjamah kata
Hingga jarak pun memisahkan
Meneteskan butiran embun
Melati disini tetap setia setia menjalani hari
Memberi harumnya pada sang bayu
Kuncup terakhir
Sisakan harum sendu
Direbahkanya anggun tubuhnya
Menjadi taburan kehilangan
Pada hamparan tanah yang menjadi kuburnya
Kasih dari rinai hujan menjadi kawannya
Melati,
'setiaku menatap langit, menyeduh embun, melukis jingga pada senja yang berlalu, terimakasih untuk putih yang kau jaga'
Wampoa Garden
Under the tree, 'i'll never asking you, where you go. I just want you to know that i will waiting for you'
'you no need to wait for me, be happy with ur love' he said
MERDEKAAA !!
Berteriak :
MERDEKAAAAA!!
MERDEKAAAAA!!
Lima menit sesudahnya aku teriakkan MERDEKA!.
Setelah semua kewajiban terlaksana.
Inilah indah dari merdeka.
Merasakan kesejukan yang sebenarnya.
Lima menit saja aku merdeka.
Terbebas dari belenggu dunia.
Menenggelamkan diriku dalam lautan kasih-Nya.
Bersujud memohon petunjuk dan ridho-Nya.
Bilik Rantau Aurora
Gema Takbir
Allahu akbar
Allahu akbar
Allahu akbar
Laa illaha ilallohu allahu akbar
Allahu akbar walillhilham
Gema takbir menyibak tabir
menggetarkan gedung pencakar langit
Semilir angin sejuk mengalir
Meneteskan tangis para pejuang negeri
Pada ruang sepetak, terisak
Tumpahruah rindu tercurah
Pada yang esa berserah
Dekap rindu yang diseberang
Memohon maaf untuk kekhilafan
mengalir cerita tak berkesudahan
merangkai harap dimasa datang
Tangan berjabat saling berpelukan
Tiap harap untuk dicatat
Melukis biru disenja lewat
Wisma Rantau Aurora
Saat kumandang takbir di Victoria Park, Hongkong.
Dibalik Hari Indah Itu
Alhamdulillah Hari Raya Idul Fitri datang lagi.
Ternyata enggak terasa sudah sebulan berpuasa. Rasanya seperti baru kemarin mulai puasanya, eh besok udah lebaran. Huaaa kangen rumah.
Eh iya belum nulis juga tentang perjalanan puasa kali ini. Ramadhan kemarin jelas berbeda dengan Ramadhan, berbedanya cuma terletak pada suasana aja. Seneng, susah panaaas pada suhu 30℃→lebih.
Mengekang hawa nafsu, mengekang emosi yang meluap-luap*kaya kali kapuas hehe*
Bekerja sebagai pekerja rumah tangga, sudah pasti lebih banyak mengeluarkan tenaga dan juga emosì yang luar biasa*kaya gunung berapi*
Seperti tahun yang lalu, sebelum melaksanakan puasa Ramadhan, aku pasti mengajukan Mengajukan proposal dulu*maksudnya izin.com*
"Mom, next month i am not eat like last year" tanyaku. Ini sich bukan permohonan tapi pemberitahuan. Masih saja harus jelasin panjang lebar seperti tahun lalu. Uch gak paham2, tapi ya maklum mereka orang atheis.
"apakah hari ini kamu tidak makan?" ini pertanyaan mami seminggu menjelang ramadhan. Setiap hari dia tanya, padahal masih lama.
"you too much believe" kata si bos. Inilah, meskipun aku jelasin lagi tetap mereka g paham. Tapi sedikit aku tetap harus menjelaskan.
"tidak semua orang Indonesia melakukan puasa seperti kamu." katanya lagi.
"mungkin saja mereka bukan orang muslim" jawabku.
"o, tapi yang kerja di celya dan Iris orang Indonesia, Moslem juga, tapi mereka makan, bahkan makan babi, itulah alasanku mengapa kukatakan kamu terlalu percaya" kata si bos lagi.
"hmm..sama saja kok mbok sama orang Hongkong, ada yang menganut ajaran Yang berbeda-beda" jawaban terakirku.
Hmmm genap sudah sebulan Ramadhan dan hari raya pun datang. Kebetulan sekali hari raya kali ini tidak dihari liburku, tapi ku ajukan proposal lagi untuk bisa mengikuti sholat ied di Causewe bay dan Alhamdulillah disetujui. Masih tetap dengan pertanyaan dan pernyataan.
Ah sekian
Cukupkah Bekal?
Renungkan!!renungkan!!
usia semakin berkurang
Hidup sekian lama dijalani
Cukupkah bekal?
Cukupkah?
Kalo belum ya cepet nyari
Bukan harta benda
Tapi amal kita
Renungkan! hmmm..kapaaann ya rabi :)
Untaian Kata dihari Special
Alhamdulillah, apa lagi yang bisa kuucap dihari ulang tahunku. Segala puji hanya bagi Allah. Alhamdulillah masih diberi umur panjang, satu keSempatan untuk merubah diri menjadi yang lebih baik. Dan semoga semakin dekat diri ini pada sang Kholiq. Mampu untuk selalu menjalankan perintahNya.
Alhamdulillah. Ternyata usiaku sebentar lagi mendekati kepala tiga. Sementara belum punya anak, ehehehe nikah aja belum *sambil promosi buat yang baca, yang mau daftar buruaaan!* sebel kalau ada yang bilang "Yut, cepet nikah, umur dah tua. Buat apa ngejar harta mlulu" ini kata tetanga. Huft nyakitin banget. Tapi ya biar "apa orang nak cakap tentang aku ni,suka-suka awakla" ni kata orang malingsia . Dan lagi kata Bapak "ingat umur, ndhuk!". Ada porsi jodoh kok untuk setiap manusia, tinggal tunggu waktunya : dekat, sedang dan jauh. Mengapa harus takut.
berarak awan
merubah arah langkah
Serahkan saja
Alhamdulillah, ultah yang berada didalam naungan bulan suci Ramadhan. Ada kebahagiaan tersendiri yang kurasakan.
Tanpa sebuah perayaan ato pesta, bukan karena lagi bokek belum gajian, tapi sudah menjadi kebiasaan enggak pernah mengadakan perayaan ul-tah. Tiup lilin aja lum pernah. Hehe wong ndeso tiup ublik wae. Malu-maluin banget.
Walaupun tak ada kue tart, pada ultah yang lalu aku mempunyai makanan favorit yang setia yaitu 'telor'. Tapi untuk ultah x ni ga ada telor..wehehe telor udah netes dah jadi little bird.
Alhamdulillah. Memilikì sahabat yang banyak adalah kebahagiaan yang tak terkira. Terutama untukku yang jauh dari negeri. Ucapan dari temen Fb, Fs, MUltiply.'terimakasih' untuk do'anya, meski aku tak menyapa mereka, tp mereka begitu baik dan menyapaku.
Alhamdulillah yaa Allah
Tetapkan, teguhkan iman ini hanya padaMu yaa Allah
Kuberserah hanya pada Allah
Tambahkanlah ilmu untuk hamba ini
Titian kasih sejati
Ringankan lidahku untuk selalu mensyukuri nikmatMu.
Amin.
kelopak yang merekah
gugur satu persatu
biarkan saja
hitung usia
pada senja yang tua
kulafadz do'a
kercurah kasih
kekasih bersemayam
pada sumbunya
terbakar menyala
pacu gelora
Wisma Rantau Aurora
Kereta Senja
Hiruk pikuk stasiun kota
Kuberdiri menanti kereta senja
Sekaleng kopi kawan sejati
Lalu-lalang manusia mengantri
Tut tut tut
Bersiul,tersenyum lugu menyapaku
Ayun langkahku menuju bangku terduduk
Derit menjerit lajunya tinggalkan kota
Kota kenangan yang hadirkan cerita
"wanita bertudung memasung babi di istana sendiri"
Jelajah sawah gugusan perbukitan
Wajah indah senja terbias dijendela
Kuterawang keangkasa jingga merona
Sekumpulan burung kembali keinduknya
Mentari lelah kian rebah
Kereta senja mendekat persinggahan
Distasiun maghrib kereta berhenti
Dan perjalanan berakhir disini
sunset train Gold Coast-Wampoa G
(Iyut Acn)19jun'10
KUCIUM ENGKAU TAHUN DEPAN
"Kang,kuingin ciummu sekarang!"bujukku merajuk
"Bukan sekarang,sayang"terkulum senyum bijakmu
"bukan sekarang?kenapa Kang?"tanya mengudara
"ada yang berpesta,menarik tangan tak bisa ditampik karenanya kan ada sesal"bijaknya cinta
"InsyaAllah,bila berjodoh,kucium engkau tahun depan setelah pinangan,perkahwinan dan kita dihalalkan"jawabmu,tiada raguku
Kang,taun depan yang engkau bilang sudah datang
Aku siap untuk engkau pinang
Kang,engkau tega segera berpulang
Meninggalkan ribu harap dan kenang
Tapi
Bulir air terus mengalir
Kini
Janji tak bisa ditepati
Kang,impian tak bisa lagi dijelang
Menyisakan senyuman pada terang rembulan
Kang,layang-layang terputus dari benang
tak bisa lagi tangan bergandengan
Seandainya
Ciuman itu ada berbuah nyawa
Derita
Tak ada tangan menyokongnya
Kang,ditiap mimpi kuliat wajahmu terang
Seperti pijar bintang
Kang,tak lelah do'a kulayang
Semoga damaimu disisi Tuhan
Wisma Kata Aurora(Iyut Acn)
KERINDUANKU
Senjaku datang
Beburung terbang pulang
Aku pun juga
Jingga menawan
Ada rindu membara
Bilik hatiku
Getar dadaku
Mendengar panggilanMu
Sepi menghuni
Bentang sajadah
Bertafakur sejenak
Mengisi waktu
Wisma Kata Aurora(iyut Acn)
LELAKIKU
SIAPA AKU
Aku siapa
aku bukanlah siapa-siapa
dan siapapun bukanlah aku
tak perlu bertanya sejatinya aku:
setetes air dilautan
membaur diserap menguap menjadi hujan
pendar diantara gerimis luput dari pandangan
tertunduk tawadhu' pada yang selalu terjaga dan padanya kutengadahkan tangan memohon ampunan
Aku siapa
aku bukanlah siapa-siapa
dan siapapun bukanlah aku
tak perlu bertanya sejatinya aku:
seekor burung kecil sayap kecil
mengembara mencari kedewasaan diri
dibawah naungan langit dan yang Maha tinggi
kepak sayap sarat ketabahan dalam diri
Wisma Rantau Aurora(iyut acn)
HATIKU
Aku ingin pergi,pergi jauh darimu
Tapi bagaimana aku bisa
Hatimu terbawa olehku
Dan hatikupun masih kau bawa
Aku akan mati tanpa hatiku
Dan kau pun pasti begitu
Biarkan rasa ini berlalu
Jangan pedulikan aku
Kembalikan hatiku
Dan aku kan kembalikan hatimu
Katakan kau membenciku agar ku mudah melupakanmu
Tapi tak kan pernah kukatakan aku membencimu.
Indah Telaga Ngebel
Potret Telaga Ngebel
Senja yang indah di Telaga Ngebel.Telaga Ngebel terletak di daerah wewengkon (Jawa: kuasa) kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.Sekitar 25 km dari pusat kota Ponorogo.suasana indah ada di telaga ini.pohon-pohon rindang yang memagarinya pohon yang sudah berumur tua.suhu rata-rata 22-23℃.
Hmm yang paling enak buat muda-mudi.yang enak lagi nila bakar yang dinikmati seraya memandang senja.
Foto diambil dari photobucket Telaga Ngebel





