Sederhana dalam bersikap, kaya dalam berkarya
RSS

Kaca Mata

Pada riuhnya siang di negeri asing ini. Diantara ribuan wajah-wajah asing, wajahmu masih saja anggun seperti dulu, saat pertama kali kau injakkan kakimu disini. Tiba-tiba kau dengan pertanyaanmu, yang sama seperti dulu padahal sekian waktu sudah berlalu. Lagi-lagi sebuah dompet tanyamu sekaligus tawamu. Untuk sebiji koin agar tak tercecer kataku. Aku pun tak mau kalah untuk tidak melemparimu dengan tanya. mataku menyipit, menemukan kaca mata hitam digenggaman tanganmu. Mata beningmu seperti telaga, lentik yang memagar indah matamu, mengapa kau tutupi, tanyaku padamu dan aku menunggu jawabmu. Dahimu mengernyit kulihat dan kucoba menghitung garis-garisnya. Biar mereka tidak bisa berenang dikedalaman hatiku, mencari dan menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan yang aku tak bisa menjawabnya, dan juga kutipu mataku agar tak nampak keriput pada kulitku dan seolah aku adalah seorang bayi. Jawaban menenggelamkanmu disenja yang menua.

Ikutlah aku suatu saat nanti, tapi kau menggelengkan kepala. Iya, aku tau kita sama datang ketempat ini, pijakan kita pun sama, yang menciptakan kita pun sama, dan untuk pergi kita tak pernah tau, seperti pagi itu pak tua menyeduh kopi didapurnya, tapi saat senja dapur kosong tanpa paktua dan secawan kopi, seterusnya dia telah pergi. Seperti senja kemarin bayi tetangga dengan lahap menyedot air susu dari ibunya dan tadi pagi ibunya menjadi gadis lagi.

Kali ini malam melelapkanmu dan jejak kakiku meninggalkan senyum bangkubangku kosong aroma pantai yang terus menyeruku kembali. Akan kujumpai engkau esok kataku berbisik.


Wìsma Kata Aurora

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Iantrucker mengatakan...

kacamata cinta.....

Posting Komentar

terimakasih telah berkunjung diblog saya,alangkah baiknya jika anda meninggalkan sepatah kata